Membentuk Generasi Muslim Berkualitas

Jl. Panda Barat 44 Palebon Pedurungan, Semarang, 50199

logo

024-6731280

024-6731281

07:00 - 17:00 WIB

Senin - Sabtu

logo

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

The child has one intuitive aim: self development

Potret Generasi Zaman Now

Oleh: Ir. Khonifah

Guru IPA SMP Islam Terpadu PAPB Semarang

 

BARU-baru ini masih hangat diperbincangkan tentang masalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Masih belum hilang dari ingatan kita menurut informasi dari Ketua MPR  Zulkifly Hasan mengatakan bahwa ada 2 fraksi dari parpol yang mendukung LGBT. Bayangkan saja kalau seandainya semua fraksi mendukung dan menyetujuinya tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib generasi penerus bangsa kita nantinya, tentunya negara kita akan mengalami rusaknya moral anak bangsa.

Sungguh sangat memprihatinkan negara kita sekarang ini sedang mengalami krisis moral. Psikolog Elly Risman, S.Psi menyampaikan pandangannya terkait dengan uji materi dalam pasal kesusilaan di KUHP. Menurutnya, perzinahan kini menjadi gaya hidup/lifestyle dan layaknya sebuah endemi di era digital. Ia juga mengatakan bahwa telah terjadi pesta sex bebas yang dilakukan oleh anak dibawah umur. Astagfirullah…. sungguh sangat menyedihkan. Yang menjadi pertanyaan “Salah siapakah ini?” Ini semua menjadi cambuk dan peringatan sekaligus tamparan bagi kita sebagai orang tua untuk mendidik,membimbing, serta mengawasi putra-putrinya.

Tanpa disadari sebetulnya hal ini bisa terjadi karena salah satunya adalah faktor keluarga maupun lingkungan. Banyak orang tua sibuk dengan pekerjaannya sendiri pergi kerja pagi pulang larut malam bahkan sering ke luar kota dan tidak memperdulikan aktifitas putra-putrinya. Orang tua hanya memberi fasilitas seperti HP, game, wifi dan sebagainya yang tanpa pantauan dari orang tua sehingga anak-anak bisa bebas merdeka mengakses pornografi. Sehingga, akhirnya mereka sampai terjerumus ke hal-hal yang dilarang oleh agama seperti sex bebas, pemerkosaan, LGBT, dan tidak tertutup kemungkinan terjerumus juga ke dunia narkoba yang ini nantinya ada kaitannya juga dengan meningkatnya penderita HIV AID.

LGBT adalah perilaku yang menyimpang dari kodratnya, tanpa disadari itu terjadi juga karena orang tua membiarkan anaknya untuk tumbuh menjadi LGBT, contohnya orang tua yang membiarkan anak perempuannya berperilaku seperti layaknya anak laki-laki dan tumbuh sampai dewasa menjadi seorang lesbian begitu juga orang tua membiarkan anak laki-lakinya berperilaku seperti anak perempuan hingga tumbuh dewasa menjadi seorang yang menyukai sesama laki-laki (Gay) dan orang tua tidak menyadari hal itu. Tetapi ada juga LGBT itu terjadi karena pengaruh lingkungan yang menjadi gaya hidup mereka, ada juga karena dari keluarga broken. Pada Zaman Nabi Luth Gay dan Lesbian sudah ada dan ini merupakan perbuatan yang dilaknat oleh Allah sehingga sampai negerinya diberi azab dijungkir balikkan dan diturunkan hujan batu.

Maka dari itu mari kita segera memperbaiki cara mendidik dan membimbing anak, kita sebagai orang muslim didiklah dan bimbinglah anak kit sesuai dengan tuntunan agama yang diajarkan oleh Rosulullah. Yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah perhatian dan kasih sayang dari orang tua bukan hanya dijejeli dengan materi saja. Anak-anak butuh figur seoarng ayah dan ibu yang baik dan bisa menjadi panutan.

Pada kenyataannya cara mendidik anak antara orang tua zaman old berbeda dengan orang tua zaman now. Orang tua zaman old dalam mendidik anak lebih dominan dalam hal menanamkan akhlak, kemandirian, kedisiplinan, dan etika terhadap orang tua sedangkankan orang tua zaman now lebih dominan dengan unsur demokrasi, lebih lunak, dan kurang menanamkan kemandirian dan etika terhadap orang tua, hal tersebut disebabkan oleh faktor kesibukan dengan pekerjaannya.

Orang tua zaman now lebih menuntut kesuksesan dalam hal akademik dan urusan duniawi saja sementara untuk urusan akhlak agak terabaikan yang seharusnya lebih diutamakan. Orang tua menuntut anak-anaknya untuk sekolah di sekolah favorit tanpa melihat kemampuan dan bakat anaknya, menuntut anak mendapat peringkat kelas/ranking.

Tidak sedikit orang tua dalam mendidik menerapkan kepada anak-anaknya hanya dengan cara memerintah, membanding-bandingkan, meremehkan, menyalahkan, mencap, dan menasehati tetapi dengan nada emosi kepada putra-putrinya, sehingga yang terjadi anak menjadi stress dan putus asa yang akhirnya butuh pelarian. Seandainya pelarian anak tersebut ke hal-hal yang positip karena kebetulan linkgkungannya/teman-temannya baik tidak masalah, tetapi yang menjadi permasalahan kalau kebetulan teman-tamannya/lingkungannya rusak maka sangatlah mungkin anak tersebut akan terseret juga dengan teman-temannya yang rusak.

Mari kita sebagai orang tua berintrospeksi diri dan berkaca sudah seberapa jauhkah kita dalam mendidik dan membimbing anak-anak kita. Kita beri anak-anakperhatian, kasih sayang yang seutuhnya apa yang dia perlukan, utamakan dalam mendidik anak dari segi akhlak dimulai sejak dini mulai dari dalam kandungan sehingga anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berkualitas, sukses baik di dunia maupun di akhirat dan menjadi penerus bangsa yang handal sehingga negara kita menjadi negara yang tidak dipandang sebelah mata oleh negara lain. (dari berbagai sumber/hkl/man/1/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *