Membentuk Generasi Muslim Berkualitas

Jl. Panda Barat 44 Palebon Pedurungan, Semarang, 50199

logo

024-6731280

024-6731281

07:00 - 17:00 WIB

Senin - Sabtu

logo

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

The child has one intuitive aim: self development

Hilangnya Kesakralan Makna Ujian

Oleh: Riya Pramesti, S.S., S.Pd.

Guru Bahasa Jawa SMP Islam Terpadu PAPB Semarang

 

TANPA-terasa tahun ajaran 2017/2018 sudah memasuki pertengahan semester ke dua. Saatnya mengikuti kegiatan penilaian tengah semester (PTS) II bagi siswa dari jenjang SD, SMP, SMA dan atau sederajat. Rasanya ada yang berbeda dengan pelaksanaan ujian-ujian sekarang. Suasana menjelangpelaksanaan punterasa adem-ayem saja tanpa banyak pergerakan dari siswa dalam rangka menyongsong penilaian tengah semester II ini.

Berbeda dengan ketika penulis masih mengenyam pendidikan seperti yang kami sebutkan di atas,alangkah serius dan mencenangkannya jika sudah mendapatkan informasi dari bapak ibu guru terkait pelaksanaan ujian (baca ulangan harian, penilaian tengah semester (PTS), dan penilaian akhir semester (PAS). Sudah barang tentu, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kami akan berburu bahan ujian, belajar kelompok dengan berlatih mengerjakan soal dengan meminjam soal-soal tahun sebelumnya kepada kakak kelas atau paling tidak melengkapi catatan yang barang kali masih tertinggal dari kelas lain. Tak hanya berhenti sampai disitu, penulis juga akan mulai menjadwalkan ulang untuk kegiatan belajar demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Pada saat ujian berlangsung, sebisa mungkin kami akan mengerjakansungguh-sungguh dengan menjaga ketertiban ruangan. Secara berkala mengecek pekerjaan barang kali ada yang belum terisi atau belum mantap dengan jawaban yang kami berikan. Hampir setiap siswa fokus pada pekerjaan masing-masing dan tidak ada istilah kelebihan waktu sehingga siswa bisa santai apalagi memperhatikan sang pengawas ruangan.

Suasana terasa begitu serius dan sakral yang mana sebagai peserta ujian kami harus mengikutinya dengan tertib dan sebisa mungkin tidak melanggar aturan main. Maklum saja dulu kompetisi antar siswa untuk menjadi yang terbaik masih sangat tinggi. Bukannya tergiur iming-iming hadiah dari orang tua jika mendapatkan nilai bagus melainkan rasa malu ketika menerima hasil pekerjaan dengan nilai merah dan atau malu dengan teman-teman seangkatan jika mendapat hasil yang terendah diantara mereka.

Sementara fenomena yang terjadi belakangan ini hari H saja dengan santainya ada beberapa siswa yang mengaku mengikuti kegiatan ujian tanpa belajar. Seakan ujian hanya sebagi formalitas yang penting diikuti sedang hasilnya jauh dari kata sempurna, ya biasa saja. Jangankan untuk berlatih soal-soal latihan, materi ujianpun terkadang ada beberapa siswa mengatakantidaksepenuhnya tahu karena kurang memperhatikan ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Bahkan siswa zaman now bangga dengan terang-terangan memposting status di media sosial ketika pelaksanaan penilaian tengah semesteryang dalam KTSP beristilah Ulangan Tengah Semester“UTS” kemudian diplesetkan menjadi (Ulangan? Tergantung Siapa yang Mengawasi). Atau senantiasa menggembar-gemborkan semboyan “posisi menentukan prestasi”.

Dari kata-kata di atas sudah bisa terbaca bahwa adanya niat curang yang akan dilakukan oleh siswa. Sepintas tercermin tak ada sedikitpun rasa canggung apalagi rasa malu bahwa mereka adalah pelajar yang mempunyai tugas utama belajar dengan nilai terbaik sebagai hasilnya. Walaupun nilai akademik bukan patokan mutlak tingkat kecerdasan anak, namun tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat awam masih menjadikan indikasi siswa yang bernilai bagus adalah anak yang berprestasi.

Bahkan yang sedang menjadi tren siswa sekarang adalah memberikan surat sakti kepada bapak ibu guru yang berbunyi “barang siapa mempersulit orang lain kelak Allah akan menyulitkannya di hari kiamat.” Adapula yang terang-terangan membawa contekan di kelas dengan membuat ringkasan di kertas dengan ukuran mini dan atau menuliskan jawaban diselembar uang kertas. Anehnya ketika siswa yang bersangkutan ditanya alasan melakukan hal tersebut dengan santainya menjawab, “Ya iseng saja, Pak/Bu.”

Bahkan ada yang menjawab “Untuk menggoda pengawas.” Hal ini menjadi sangat lucu yang mana seharusnya ujian menjadi salah satu tolak ukur siswa berhasil menyerap materi pembelajaran bukan menjadi bahan gurauan dan atau momok menakutkan yang terkesan menyulitkan siswa dengan adanya ujian. Selain itu kegiatan ini juga menjadi dasar evaluasi seorang guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar selanjutnya. Lalu, kondisi yang demikian menjadi salah siapa? Apakah siswa yang terlalu menganggap enteng sebuah ujian atau guru yang kurang mampu menanampan jiwa kompetisi kepada siswa-siswinya?

Sejenak sebagai insan yang berkecimpung di dunia pendidikan kita harus merenungkan fenomena tersebut. Sebagai langkah awal, kita bisa duduk bersama dengan siswa. Bukan untuk menghakimi tetapi paling tidak kita bisa menggali terhadap perilaku menyimpang yang akhir-akhir ini menjadi tren di kalangan siswa.

Kedua, dari keterangan siswa yang sudah kita peroleh maka menjadi kesempatan bagi kita sebagai pendidik menyisipkan pemahaman dan nasihat tentang pentingan sebuah evaluasi. Mau tidak mau, suka tidak suka siswa harus mengikuti kegiatan evaluasi tersebut sebagai salah satu rangkaian kegiatan belajar-mengajar yang harus ditempuh oleh siswa. Sehingga segala kegiatan terkait penilaian tidak bisa dianggap remeh mengingat hasil dari kegiatan tersebut akan diakumulasikan menjadi nilai raport yang harus dipertanggungjawabkan guru kepada orang tua siswa.

Ketiga, kita tanamkan kepada siswa untuk mempunyai jiwa berkompetisi satu dengan yang lain. Jenjang sekolah menjadi salah satu sarana terkecil untuk belajar berkompetisi dalam menjalani hidup yang penuh dengan tantangan kedepannya. Jika mampu bersaing maka akan menjadi pemenang sedangkan jika tidak mampu bersaing maka berpuaslah untuk menjadi penonton saja.

Keempat, membangun kerjasama dan membuat kesepakatan dengan siswa untuk saling belajar dan mengadakan introspeksi diri guna bersama-sama mewujudkan cita-cita mulia untuk mencerdaskan generasi muda yang tangguh dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu, sebagai insan akademia mari bersama-sama meningkatkan kualitas diri agar mampu menghadapi tantangan pendidikan yang semakin hari semakin berat yang bisa kita mulai dengan tidak menganggap remeh dan enteng dari hal kecil seperti halnya kegiatan evaluasi/ujian yang dilaksanakan di sekolah. (hkl/man/3/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *